Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJun 7, '10 10:45 AM
for everyone












Entah kenapa, akhir-akhir ini sering sekali melihat atau membaca status di FB atau bahkan mendengar keluhan orang tentang sikap dan perilaku orang tua mereka. Masih "wajar" jika yang dikeluhkan adalah sikap para orang tua yang sedikit arogan dan terkesan egois. Yang bikin sedih adalah ketika sikap para anak yang kemudian marah bahkan membenci orang tuanya. Bahkan pernah membaca status kawan yang mengatakan marah dengan ibunya yang terlalu banyak aturan dan tepat saat itu juga saya menerima pesan lewat inbox di FB, ibu dari salah seorang kawan saya yang lain meninggal, kemudian kawan itu menceritakan betapa sedih dan kehilangan yang teramat sangat. Dua kondisi yang seharusnya bisa dijadikan sebuah cermin bagi yang lain atau bagi siapapun tentang keberadaan orang tua ketika mereka masih berada disisi kita.


Tetapi mungkin saja jika saat ini saya masih berumur belasan atau masih dibawah 25 an (ketahuan deh udah tuir hahaha..) mungkin saya setuju dengan orang-orang yang berkeluh kesah dengan sikap orang tuanya. Karena saya sendiri terkadang juga merasakan  "keegoisan" mereka para orang tua. Pernah juga muncul keinginan ingin kabur dari rumah, capek mendengar segala perintah ibu, berandai-andai jika saja si orang tua x adalah orang tua saya yang begitu perhatian dan memahami anak-anaknya atau berharap si B mau berbagi ayahnya. Dan hal-hal seperti ini hanya muncul sesaat saja, seringnya justru saya merindukan kedua orang tua yang ada dan lengkap meski mereka terbilang "cerewet" dengan anak-anaknya.

Sebenarnya sedikit enggan untuk bercerita karena harus menguak sebuah memori yang sudah tersimpan lama, tapi akhir-akhir ini keinginan saya untuk sharing kisah ini semakin kuat. Semoga saja tulisan ini bisa dipetik hikmahnya bagi siapapun yang membaca. Semoga...

Kisah Bermula

Ketika umur saya masih belum genap empat bulan, orang tua telah bercerai. Dan sejak itu pula saya tidak pernah bertemu dengan sosok laki-laki yang seharusnya saya panggil Ayah. Mamah pernah menikah satu kali tapi kemudian berpisah kembali. Kondisi seperti ini belum bisa saya fahami, mengingat umur saya masih kecil. Yang saya ingat adalah sebuah perasaan yang tidak bisa dilupakan adalah kerinduan untuk bertemu dengan ayah kandung. Karena waktu itu, Mamah pernah bercerita bahwa ayah yang sebenarnya, saat itu sedang berada diluar kota kemudian karena satu dan lain hal harus berpisah dan pergi meninggalkan kami. Tapi selalu meyakinkan saya, bahwa suatu saat jika sudah waktunya, saya bisa bertemu dengannya.

Mamah adalah sosok yang tegas dan boleh dibilang galak, waktu beliau masih muda. Suka takut jika beliau sudah membelalakkan matanya, Pertanda beliau tidak setuju dengan tingkah laku saya. Tapi dibalik topeng itu, Mamah adalah sosok yang sangat rapuh sekali. Selalunya ingin selalu diperhatikan oleh orang-orang sekitar, ditambah beliau memang sering sakit-sakitan. Bolak balik masuk rumah sakit sudah menjadi langganan baginya. Dari sinilah, pada dasarnya posisi mulai berbalik. Saya lah yang harus memenuhi segala kebutuhannya, membantunya makan, menyiapkan obat dan harus selalu ada disampingnya. Waktu itu saya masih SD, masa ketika bermain menjadi dunia anak-anak seharusnya.

Keadaan seperti ini tidak selalu terjadi, ada kalanya Mamah sehat kembali dan ceria seperti biasanya. Jika pulang kerja beliau selalu membawakan sesuatu. Apalagi jika sudah pergi jauh, selalu ada buah tangan dibawa olehnya. Untuk saat-saat seperti ini, merasakan begitu bersyukurnya memiliki seorang Mamah yang begitu perhatian dan selalu berusaha memenuhi segala kebutuhan. Sering membelikan baju baru atau berbagai macam mainan. Disela-sela merasakan kehangatan Mamah, tak jarang pula sering menyelip kerinduan akan hadirnya seorang ayah. Jika Mamah sedang sehat, seringnya beliau sibuk dengan dunia kerja atau lingkungannya. Sehingga, saya harus bisa mengatur diri dengan segala kebutuhannya. Disaat sepeti inilah kerinduan itu selalu merasuk didalam diri.

Karena kesibukan Mamah dan kemandirian yang ia terapkan, ketika masih SD, saya harus mencuci baju sendiri, menyiapkan sarapan sendiri dan segala kebutuhan lainnya. Jika hari minggu tiba dan saya tidak mencuci seragam dan sepatu sekolah, dipastikan kondisi saya ke sekolah tidak segar. Seringnya saya mencuci sore hari, karena pagi sampai siang selalu asyik bermain, yang seringnya cuaca kota Bandung yang dingin menjadikan halangan bagi baju dan sepatu untuk cepat kering. Sehingga, saya pergi dalam keadaan seragam yang kaku karena basah. Tapi waktu itu bukan menjadi halangan tentunya, karena nantinya akan kering semua ketika saya bersekolah dan beraktifitas di sekolah. Karena kebiasaan memakai seragam dan sepatu basah ini pula lah, menjadikan tubuh saya mudah sekali masuk angin.


The Story Goes On

Merasakan adegan-adegan layaknya sebuah sinetron? Potongan peristiwa lebay dengan iringan musik yang menusuk hati, selalu mengisi kehidupan ketika saya kecil. Dulu sewaktu pulang sekolah dan waktu itu hujan turun dengan derasnya. Karena lupa membawa payung, saya hanya bisa terpaku menunggu hujan reda. Sedang kawan lain sudah mulai membubarkan diri karena dijemput oleh orang tua atau saudaranya. Sampai suasana sekolah sepi, saya hanya bisa termangu disana. Dan selalunya kerinduan kuat akan hadirnya seorang ayah mulai berdesakan keluar. Hingga bermunculan berjuta andai dan mimpi. Jika saja begini atau jika saja begitu.

Ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupan bukan saja membuat diri ini hampa tapi malah mengundang komentar dari para tetangga. Dan Mamah selalu memberikan gambaran baik tentang sosok ayah saya dan meyakinkan "suatu saat nanti akan tiba waktunya bertemu, gak usah dengerin kalo tetangga udah bilang yang aneh-aneh".

Pertemuan Itu....

Dari sekian lama kerinduan saya akan kehadiran ayah, tiba lah waktunya untuk bertemu. Diinginkan atau tidak. Karena sampai lah waktu bagi saya untuk melaksanakan setengah dien-Nya. Harus ada seorang wali nikah. Sampai akhirnya menemukan alamatnya dan pertemuan itu, terjadilah. Luka dan perih mewarnai pertemuan itu. Nampak dia tak berdaya dengan keadaan yang terjadi. Yang akhirnya malah muncul pernyataan yang membuat diri ini terluka. Saya hanya bisa pasrah dengan semua yang terjadi, dan pernikahan tetap dilaksanakan dengan seorang wali hakim bagi pihak saya.


Allah Selalu Ada

Kerinduan sekian lama akan kehadiran dan pertemuan dengan seorang ayah yang kemudian menghasilkan sebuah luka akan selalu menjadi sebuah renungan dalam hidup. Sekian puluh tahun ditinggal yang entah sejak kapan selalu ada keyakinan, suatu saat nanti akan ada bagi saya kehidupan indah untuk dijalani nantinya. Dengan ketidakhadiran seorang ayah dalam kehidupan, selalu saja ada cara bagi Nya untuk saya rasakan, sebuah kehangatan kemudian menepis jauh rasa sepi dalam kehidupan. Kehadiran keluarga besar dari pihak Mamah memberikan arti yang sangat luar biasa kuatnya. Ya, karena tidak mungkin bagi kami untuk tinggal memisahkan diri, semenjak saya masih bayi, saya dan Mamah tinggal bersama keluarga besar dari pihak Mamah. Meski tetap saja saya harus bisa hidup mandiri, kebersamaan yang unik itu merupakan anugerah terbesar dalam hidup saya, yang tidak semua orang mendapatkannya. Nenek dan kakek tempat saya mengadu, juga paman dan bibi yang selalu menjadi guru dalam kehidupan saya. Ramainya sepupu yang ada, menggantikan posisi saudara kandung yang tidak pernah dimiliki.

Mengingat yang terjadi dalam kehidupan, selalu membuat diri ini miris jika melihat orang lain bertingkah laku tidak sewajarnya terhadap orang tua mereka. Mengeluh karena orang tua yang egois dan tidak pernah memahami. Well, kawan setidaknya mereka hadir untuk Anda. Meski seringnya sulit untuk memahami berjuta keinginan mereka, setidaknya mereka berusaha untuk ada, memberikan yang terbaik. Meski mereka mungkin pernah berbuat kesalahan yang susah untuk diterima.

Apalagi ketika akhirnya merasakan menjadi orang tua juga dengan amanah yang Allah beri. Akan semakin memahami bahwa peran dan posisi sebagai orang tua itu tidak lah mudah.  Tapi dibalik perjuangan itu, semua seolah sirna ketika melihat keceriaan dan kegembiraan yang dipancarkan dari wajah sang anak. Sehingga tak ada salahnya ketika berada dalam posisi dimana tidak setuju dengan sikap orang tua yang tidak berkenan, berpikir sekian kali sebelum memberikan respon kepada orang tua. Selama tidak bertentangan dengan agama tak ada ruginya jika kita lebih banyak mendengarkan mereka. Atau bahkan diam.

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya, sebagaimana keduanya telah menyayangi aku waktu kecil.’” (Al Israa’: 23-24)

Meski pernyataannya membuat hati ini terluka begitu dalam dan tidak dipungkiri jika mengingat kembali pertemuan kelam itu kemarahan selalu memukul-mukul dada, tetapinya didalam diri ini ingin selalu mengirimkan doa baginya yang saat ini entah dimana. Sebuah doa seorang anak kepada ayahnya. Untuk siapapun ia, yang tertinggal jauh dibelakang.

* Lomba ini diadakan oleh "Anazkia, Belajar dan Berukhuwah" dan disponsori oleh "Denai Hati, Hidup Untuk Memberi"

* Untuk foto-foto yang saya dapat diatas, selain banner lomba, saya dapat dari Embah Google, as usual.

Serdang, 7 Juni 2010
10:24 PM

30 CommentsChronological   Reverse   Threaded
rhedina wrote on Jun 7, '10
Kenapa yg hadir luka saat bertemu dengan ayah?
Mengapa mamah sepertinya tdk terbuka ttg latar belakang perceraiannya? Maaf...karena semestinya anak mengenal dan dikenalkan siapa sesungguhnya ayah kandungnya.....maaf banyak bertanya.
zhaaid wrote on Jun 7, '10
Weuheuu... saya lagi pusink krn koneksi gak bgs neh... blm konfirm sama panitia lomba...eh ada yg komen hihihi...

Emmm, begini Karena ada beberapa part yang tidak saya tulis disini Teh... biar menjadi memori yang saya simpan tentang pertemuan itu. Mamah tentunya cerita kenapa dia berpisah, tentunya setelah saya besar. Disini saya mengambil part ketika saya masih kecil dan keterangan yang saya dapat ketika Mamah beri kpd saya sblm penjelasan gamblang yg saya peroleh. Mencoba menulis ttg gambaran saya waktu kecil ttg berjuta pertanyaan dan harapan. More or less begitu Teh.. hueheuhue...

Aihh...gpp Teh santai aja... saya udah posting tulisan... jadi, saya berani menerima segela pertanyaan dan pernyataan...^^
rhedina wrote on Jun 7, '10
Oh begituuuuu.....*sambil manggut-manggut*
tulisannya bagus...jd pengen cerita juga....:)
zhaaid wrote on Jun 7, '10
Hayu Teh... seneng klo tulisan saya menular ke orang lain untuk menulis atau bercerita juga.... hihihi..

Berpikir sekian kali neh mau posting tulisan ini... tapi smoga intinya bisa mudah untuk difahami...^^ Nuhun Teh, sudah menyempatkan dan berkomentar yaaa.... lof yuuu...
rhedina wrote on Jun 7, '10
Di kepala teh buanyaakk yg pengen dituangkan, tp mungkin karena kebanyakan, jd bingung pabaliut darimana mulainya yaaa.....:))
Ada yg bernuansa agama (pengennya) ada cerita spt di atas...(maunya), ada yg fiksi alias spt cerpen (cita-citanya), tp begitu di depan kompi..menghuleng alias bengong...he..he....
Lop yuuu juga ^_^
anazkia wrote on Jun 7, '10
Mbak, baru sempet masukin link. Ana belum baca, tapi dah Ana kirim ke juri. makasih atas partisipasinya. Tolong cek namanya yah... ada nggak di daftar peserta. Kalau nggak ada, silakan bilang ke ana :)
qqcakep wrote on Jun 7, '10
Kejadian dengan ayah kok gak diceritakan Mbak. Jadi penasaran.com nie. Kek menggantung jadinya. Padahal bisa jadi itu klimaksnya :D
apriadina wrote on Jun 7, '10
Kejadian garis besarnya sama dengan kisahku tapi detilnya mgkn yang agak berbeda.. tfs dah sharing mba..
lukmanhakimch wrote on Jun 7, '10
Alloh itu dimana ya?
heheheee
zhaaid wrote on Jun 8, '10
rhedina said
tp begitu di depan kompi..menghuleng alias bengong...he..he....
Ya, karena saking banyaknya ide jadinya bingung mana yg mau ditulis hehehe.... ada bengong satu lagi, yaitu bengong krn gak ada ide...ini yg bikin susah sbnrnya...semangat menulis begitu menggebu2 tapi blank.... jadi aja bawaannya males ini yang bikin parah....

Weh... kok berasa ada yg curhat gini yaa...;)) *blushing*
zhaaid wrote on Jun 8, '10, edited on Jun 8, '10
Makasi Ana... sudah meluncur dan nama sudah tercantum. Sama2 seneng aja ramein lomba2, intinya ikut lomba memaksa diriku utk terus menulis... pssstt sering2 ya bikin lomba kayak gini hihihi....^^
zhaaid wrote on Jun 8, '10, edited on Jun 8, '10
@Mbak Ida: Hahay.... sbnrnya saya jg gak suka ama cerita yg menggantung tapi kali ini sepertinya saya harus melawan rasa ketidaksukaan saya huehehue *ngeles bangeeedd* ;))

Ceritanya jadi berasa datar2 aja gitu Mbak? hihihi... byk pesan sponsor soalnya mau tulis cerita ini... agak berat (meski tdk seberat karung yg isinya beras, jiahahaha maksa) spt yg saya bilang dari awal nulis cerita ini... spt ada bisikan2 yg memaksa saya untuk posting, smoga bukan bisikan syaitonirrojim hahahaha....

I hope... intinya mudah dicerna.... *emang makan nasi* :))
zhaaid wrote on Jun 8, '10, edited on Jun 8, '10
@Bunda Apri: Howww.... hampir sama ya kisahnya... heeemmm.. boleh cerita Bund??? hahahaha... mulai pasang muka wartawan :))
zhaaid wrote on Jun 8, '10
Alloh itu dimana ya?
Siga anak saya wae atuh Mang pertanyaan teh..... klo kt si sulung mah "Allah ada dimana2, ada diatas, dimasjid... dimana2 pokok nya!!!"... sbnrnya itu jawaban yg aku kasi pas si sulung nanya, yg aku beri jg untuk mu hahahaha.....
ndeelife wrote on Jun 8, '10
Mba....T_T
Makasih catatanya...membuatku untuk lebih bersyukur...
zhaaid wrote on Jun 8, '10
@Eka: Iya... sama2 say....alhamdulillah klo begitu...^^
abqorian wrote on Jun 8, '10
like this
zhaaid wrote on Jun 8, '10
Whooo... Ab??? Is that youuu??? Punya account eMPeh jg tho... jadi penasaran...segera meluncur....swwiiiiinnggg.....
anazkia wrote on Jun 8, '10
qqcakep said
Kejadian dengan ayah kok gak diceritakan Mbak. Jadi penasaran.com nie. Kek menggantung jadinya. Padahal bisa jadi itu klimaksnya :D
hu'uh.. penasaran :)
anazkia wrote on Jun 8, '10
zhaaid said
Makasi Ana... sudah meluncur dan nama sudah tercantum. Sama2 seneng aja ramein lomba2, intinya ikut lomba memaksa diriku utk terus menulis... pssstt sering2 ya bikin lomba kayak gini hihihi....^^
Baru baca, Mbak *maklum, sok sibuk* :D

Sama, saya juga seneg ikutan lomba hehehe.. Lho, kalau Ana yang ngadain terus, kapan ikutan lombanya...??? huehehe.. Wong amatiran gini, mosok ngadain lomba lagi? Tapi, masih larak lirik nih, Mbak nyari sponsor lagi hehehehe...
zhaaid wrote on Jun 8, '10
zhaaid said
dan pernikahan tetap dilaksanakan dengan seorang wali hakim bagi pihak saya.
Hehehehe... pada penasaran yaaa.... klo jeli sbnrnya ada part tulisan, yg saya quote diatas, adalah jawaban dari pertemuan itu.... sebuah penolakan yang saya terima.....^^
zhaaid wrote on Jun 8, '10
anazkia said
Tapi, masih larak lirik nih, Mbak nyari sponsor lagi hehehehe...
Hahaha.... seeep ayo teruskan semangat lirikan mu :))

Sayang ya link yg pertama baru usai deadlinenya...:( link yg kedua insyaAllah ikut...makasi Ana info nya.... nanti klo dapet lg info lomba, bagi2 ya...sptnya Ana lebih byk channel tmpt2 lomba penulisan neh...^^

Makasi Ana sekali lagi yaaa....Lof yuuuu....^____*
anazkia wrote on Jun 8, '10
Mbak belum usai deadlinenya, wong tanggal 10 kok. Berarti besok. Saya khan tukang ngayap di blog, Mbak jadi banyak tahu info2 lomba di blog. lah buku "Ketika Blogger BIcara Korupsi" itu juga khan hasil lomba di blog :)
zhaaid wrote on Jun 8, '10
Bagus lah Na.. drpd ngelayap gak karuan..mending di blog2 cari2 inspirasi bwt tulisan juga...

Haiih iya ya tgl 10? Hahaha... sekilas info aja td bacanya..:))

Iya, makanya aku bilang jg... sdh terlihat hasilnya dirimu ngelayap di blog2 :))
nikinput wrote on Jun 15, '10
inspiring :)
zhaaid wrote on Jun 16, '10
Makasih Mbak Novi.... tulisan ini penuh dengan darah dan air mata!!! Hahaha... lebayisme hihihi.... *menyatut katanya Pak Bambang* ;))
wisyegz wrote on Jun 16, '10
dadaku bolong baca ini...
gimana? menang nggak say?
zhaaid wrote on Jun 16, '10
Whooo... kok bisa bolong Kak?? Gak ada paku dan palu perasaan ditulisan ini.... hihihi..

Belum Kak.... masih harus berjuang... doakan adik mu inih!!! Semangat!!!
Add a Comment